Kolong Tol Sebagai Ruang Ekspresi dan Kehidupan Malam di Makassar
Di bawah kolong tol Jalan Andi Pangerang Pettarani, Makassar, muncul fenomena menarik yang menunjukkan dinamika kehidupan malam yang ramai. Tempat ini kini menjadi pusat berkumpulnya anak muda, penjual kopi, dan berbagai komunitas jalanan. Suasana yang hidup dan beragam ini menciptakan ruang yang tidak hanya sekadar tempat berkumpul, tetapi juga sebagai medium untuk berekspresi.
Ekspresi Kreatif di Dinding Penyangga Tol
Dinding-dinding penyangga tol di kawasan ini dipenuhi dengan tulisan dan lukisan yang beraneka ragam. Karya seni ini mencerminkan kebebasan berpendapat sekaligus menjadi kritik sosial terhadap ketidakpuasan terhadap sistem yang ada. Setiap coretan dan gambar yang muncul menyampaikan pesan yang dalam, menggambarkan aspirasi dan keresahan anak muda terhadap kondisi sosial dan politik saat ini.
Tulisan-tulisan yang terlihat di dinding juga menunjukkan keinginan anak muda untuk memiliki ruang ekspresi yang aman dan bebas. Ini merupakan bentuk kebutuhan untuk menyalurkan emosi dan ide-ide mereka di tengah keterbatasan ruang publik yang ada. Dalam konteks ini, fenomena seni jalanan di kolong tol bukan hanya sekadar corat-coret, tetapi juga simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.
Kehidupan Malam yang Beragam
Saat malam tiba, kolong tol berubah menjadi pasar kopi yang ramai. Lebih dari sepuluh penjual kopi berjejer di sepanjang jalan, menawarkan berbagai jenis kopi dengan harga terjangkau. Suasana ini menarik perhatian banyak anak muda yang ingin bersantai sambil menikmati kopi. Dengan harga yang dimulai dari delapan ribu rupiah, kolong tol menjadi alternatif utama bagi mereka yang mencari tempat nongkrong yang strategis dan nyaman.
Beragam aktivitas terlihat di tempat ini. Ada pasangan kekasih yang menikmati kencan malam dengan secangkir kopi, kelompok anak motor yang berkumpul, serta para pegiat olahraga skateboard yang mengasah kemampuan mereka. Semua ini menunjukkan bahwa kolong tol berfungsi sebagai ruang sosial yang mengakomodasi berbagai kepentingan dan hobi.
Tantangan Ruang Terbuka Hijau di Makassar
Meskipun kolong tol menawarkan ruang ekspresi bagi anak muda, kondisi kota Makassar secara keseluruhan masih jauh dari kata ideal. Sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar seharusnya memiliki lebih banyak ruang terbuka hijau. Saat ini, kota ini masih kekurangan taman dan ruang publik yang representatif. Ruang terbuka hijau yang ideal seharusnya mencapai tiga puluh persen dari total luas kota, namun kenyataannya sangat jauh dari harapan.
Permasalahan lain yang mencolok adalah kemacetan lalu lintas yang parah dan polusi udara yang meningkat. Tidak adanya sistem pengelolaan sampah yang efektif semakin memperburuk kondisi lingkungan. Taman-taman kota, yang seharusnya menjadi tempat belajar dan berekspresi, sering kali dibiarkan tanpa perawatan yang memadai, bahkan semakin menyusut.
Pentingnya Pemerhatian Terhadap Ruang Publik
Kondisi ini menunjukkan perlunya perhatian dari semua elemen masyarakat, termasuk pemerintah, untuk menciptakan ruang publik yang lebih baik. Ruang ekspresi yang adil dan setara harus tersedia bagi semua kalangan, bukan hanya bagi sekelompok orang. Penanganan serius terhadap ruang terbuka hijau dan fasilitas publik sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi warga.
Tanpa adanya perhatian terhadap masalah ini, anak muda akan terus mencari cara untuk mengekspresikan diri, bahkan jika itu berarti mengandalkan tempat-tempat yang tidak resmi seperti kolong tol. Fenomena seni jalanan dan corat-coret di bawah kolong tol adalah indikator bahwa kota ini membutuhkan perubahan dan perhatian yang lebih serius.
Kesimpulan
Kolong tol di Jalan Andi Pangerang Pettarani bukan hanya sekadar area yang terabaikan; ia mencerminkan harapan, keresahan, dan aspirasi generasi muda Makassar. Dengan memperhatikan dan merawat ruang publik, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi semua. Ruang ekspresi yang inklusif dan representatif sangat penting untuk mengurangi ketidakpuasan sosial dan menciptakan kedamaian di masyarakat. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk mewujudkan visi ini, demi masa depan yang lebih baik untuk kota Makassar.