Strategi Pangeran Mohammed bin Salman: Memperkuat Aliansi AS Tanpa Hubungan dengan Israel

Kunjungan Diplomatik Pangeran Mohammed bin Salman ke AS: Fokus pada Keamanan dan Energi

Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) dari Kerajaan Arab Saudi sedang mempersiapkan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat yang dijadwalkan sekitar pertengahan November. Kunjungan ini akan menjadi yang pertama bagi MBS ke AS dalam tujuh tahun terakhir dan diharapkan dapat memperkuat hubungan antara kedua negara, terutama dalam hal keamanan dan kesepakatan nuklir sipil.

Tujuan Kunjungan

Salah satu fokus utama dari kunjungan ini adalah untuk memperkuat pakta keamanan antara Arab Saudi dan AS. Riyadh berencana untuk menandatangani perjanjian pertahanan yang mirip dengan perjanjian keamanan yang ada antara Amerika Serikat dan Qatar. Selain itu, Arab Saudi juga menginginkan akses terhadap teknologi militer canggih, termasuk jet tempur siluman F-35 dan teknologi nuklir sipil dari AS.

MBS berupaya membangun aliansi strategis yang tidak hanya terbatas pada keamanan, tetapi juga mencakup kerjasama di bidang teknologi, energi bersih, dan investasi lintas sektor. Pendekatan ini mencerminkan pergeseran dalam kebijakan luar negeri Saudi dari ketergantungan pada minyak ke diplomasi yang lebih berorientasi pada kepentingan strategis.

Normalisasi Hubungan dengan Israel

Meskipun ada spekulasi mengenai kemungkinan normalisasi hubungan dengan Israel, hal ini bukanlah prioritas bagi Riyadh saat ini. Meskipun Presiden Donald Trump optimis bahwa Saudi akan segera mengakui Israel, para analis menilai bahwa hal tersebut sulit untuk diwujudkan dalam waktu dekat. Pengamat politik mencatat bahwa pengakuan semacam itu hanya mungkin terjadi jika Israel mengambil langkah konkret menuju pembentukan negara Palestina.

Analis Saudi Ali Shihabi menekankan bahwa pengakuan terhadap Israel hanya akan terjadi jika ada kemajuan signifikan dalam isu Palestina. Menurutnya, normalisasi hubungan ini merupakan “kartu tawar” yang sangat berharga bagi Arab Saudi dalam mendorong penyelesaian konflik Palestina-Israel.

Tantangan Internal

Faktor pendapat publik di Arab Saudi juga perlu diperhatikan. Survei yang dilakukan pada akhir 2023 menunjukkan bahwa sebagian besar warga Saudi menolak pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel. Hal ini menjadi perhatian MBS, yang harus mempertimbangkan reaksi domestik sebelum mengambil langkah yang mungkin dianggap kontroversial.

Memulihkan Citra Internasional

Kunjungan ini juga memiliki nilai simbolis yang tinggi bagi hubungan Saudi-AS. Lawatan terakhir MBS ke Amerika terjadi pada tahun 2018, sebelum insiden pembunuhan kolumnis The Washington Post, Jamal Khashoggi. Insiden tersebut memicu kecaman internasional dan menyebabkan ketegangan dalam hubungan diplomatik antara kedua negara.

Kini, dengan meningkatnya peran Saudi di kancah global, MBS berusaha memperbaiki citra internasionalnya melalui pendekatan diplomasi yang lebih pragmatis. Riyadh ingin menjadi pemain utama dalam isu-isu global, tanpa kehilangan kendali atas masalah-masalah yang sensitif seperti Palestina.

Kesimpulan

Kunjungan Pangeran Mohammed bin Salman ke Amerika Serikat diharapkan dapat membuka jalan bagi kerjasama yang lebih erat antara kedua negara, terutama dalam bidang keamanan dan energi. Meskipun normalisasi hubungan dengan Israel bukanlah prioritas saat ini, langkah-langkah yang diambil selama kunjungan ini akan sangat menentukan arah kebijakan luar negeri Arab Saudi ke depan.

Sebagai pemimpin generasi baru di Timur Tengah, MBS harus menyeimbangkan kepentingan global dengan realitas politik domestik yang kompleks. Strategi hati-hati ini menunjukkan bahwa Saudi ingin memperkuat pengaruhnya di arena internasional tanpa mengorbankan posisi strategisnya di dunia Arab.