Keberadaan Delman di Tengah Banjir Dayeuhkolot
Ketika langit mendung menyelimuti kawasan Sungai Citarum, suasana di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, terlihat berbeda. Jalan raya yang biasanya ramai kini berubah menjadi genangan air setinggi paha orang dewasa. Meski begitu, ada pemandangan menarik yang mencuri perhatian: para kusir delman yang berdiri tegak, sabar memegang kendali kuda mereka, seolah menjadi bagian dari denyut kehidupan kampung.
Kehadiran Para Kusir Delman
Sejak subuh, sebelum matahari sepenuhnya terbit, para kusir sudah bersiap. Mereka mengurus kuda-kuda mereka, memeriksa pelana, dan memastikan roda delman dalam kondisi baik. Asep, salah satu kusir yang dijumpai, menjelaskan bahwa keterlambatan bisa membuat mereka kehilangan penumpang. Bersama Asep, ada juga Indra dan Ujang, yang telah akrab dengan kawasan ini. Mereka datang dari berbagai kampung, bersatu di Pasar Dayeuhkolot, di mana meskipun air belum surut, kehidupan tetap berjalan.
Saat banjir melanda, delman menjadi penghubung antara warga dan tempat tujuan. Indra mengatakan bahwa mereka membantu para pegawai pabrik yang baru pulang dari malam kerja. Warga yang berjalan perlahan, menggulung celana mereka untuk menghindari genangan, mendatangi delman seolah mencari pelindung dari air yang mengancam.
Delman Sebagai Transportasi Alternatif
Delman tidak hanya menjadi kendaraan bagi mereka yang terjebak dalam situasi darurat, tetapi juga menjadi pilihan bagi para pedagang kecil yang ingin membuka lapak di pasar. Mereka mengangkut sayur-mayur, buah, dan bumbu dapur, barang dagangan yang harus tetap kering. Delman berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan rezeki dengan ancaman banjir.
Di saat-saat tertentu, para kusir bahkan harus mengangkat sepeda motor ke atas delman. Pekerjaan ini bukanlah hal mudah, tetapi dilakukan dengan hati-hati dan penuh kehati-hatian. Ujang menjelaskan bahwa pendapatan mereka bervariasi, kadang dua puluh ribu, kadang hingga empat puluh lima ribu, tergantung pada seberapa ramai situasi saat itu.
Menghadapi Tantangan dengan Kesabaran
Tantangan terbesar bagi para kusir bukanlah banjir atau sedikitnya penumpang, tetapi menjaga kuda agar tetap tenang di tengah situasi yang berisiko. Asep menegaskan bahwa kuda adalah nyawa dari pekerjaan mereka. Kuda yang panik dapat menyebabkan delman terbalik. Oleh karena itu, mereka berbicara lembut kepada kuda agar merasa aman.
Bagi para kusir, kuda bukan sekadar hewan pekerja, tetapi juga teman dan rekan dalam perjalanan hidup. Dalam beberapa momen, mereka merasakan kedekatan emosi dengan kuda, terutama ketika harus melewati kondisi sulit.
Kisah Inspiratif di Tengah Banjir
Kehadiran delman di tengah genangan air mengingatkan akan potongan masa lalu yang tetap relevan di era modern. Banyak orang yang mengabadikan momen ini, melihat delman sebagai simbol harapan. Indra dengan bangga bercerita tentang pengalaman ketika seorang ibu yang membawa anaknya yang demam harus melewati banjir. Delman menjadi penyambung harapan di saat-saat genting.
Suara langkah kuda yang menghantarkan penumpang melintasi air seolah mengingatkan kita akan ritme hidup yang lebih lambat. Dalam perjalanan ini, para kusir tidak terburu-buru; mereka mengalir bersama keadaan, menikmati setiap langkah.
Warisan yang Tak Pernah Hilang
Meskipun zaman terus berubah, keberadaan delman di Dayeuhkolot tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Jalan raya mungkin akan kembali dipenuhi kendaraan modern, namun jejak tapak kuda di permukaan air akan selalu meninggalkan kenangan. Delman adalah simbol dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar pergi, selalu siap membantu tanpa keluhan.
Selama masih ada banjir yang membatasi langkah manusia, selama masih ada kuda yang berdiri gagah, dan selama masih ada kusir yang datang dengan harapan sederhana, suara tapak kuda akan terus terdengar di Dayeuhkolot. Dalam kesederhanaannya, delman mengajarkan kita tentang ketabahan dan harapan di tengah tantangan kehidupan.